Gang Perdamaian

Baihajar Tualeka, perempuan Ambon banyak bergelut dalam penanganan perempuan dan anak di pengungsian di Ambon Maluku. Sekarang menjadi koordinator Lembaga Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (Lappan). Bai demikian nama akrabnya resah dengan konflik yang terjadi di daerahnya, upaya reparasi pasca konflik di Maluku tidak pernah ditangani serius oleh pemerintahan setempat. Namun ditengah ketidakpedulian pemerintah, Baihajar dan kawan-kawan mencoba melakukan reparasi untuk kepuasan korban yaitu membangun memorialisi yang diujicobakan di salah satu desa yaitu desa waringin, berikut adalah petikan wawancara RUAS dengan Baihajar:

Bagaimana pengalaman perempuan Ambon melakukan reparasi tingkat lokal?

Reparasi sama sekali belum dilakukan, saat ini baru dimulai dengan membangun pemahaman mengenai memorialisasi, bukan reparasi karena pihak pemerintah sendiri belum mengakui konflik bagian dari pembiaran.

Bagaimana membangun pemahaman memorialisasi itu?

Kami masih bicarakan dengan uji coba di komunitas, namun tidak berjalan dengan maksimal karena masyarakat masih dendam akan konflik, dendam antar komunitas masih ada.

Apa bentuk memorialisasi yang dipilih untuk diujicobakan? lalu komunitas apa dan dimana? Pihak mana saja yang dilobby untuk memorialisasi ini?

Kami coba di Waringin kelurahan Wainitu karena ada dua komunitas kan. Komunitas yg diambil adalah pihak-pihak yang selama ini jadi korban langsung dari konflik. Masalah pemahaman,karena masyarakat belum pulih dari konflik

Kami hanya fokus dalam lokasi Waringin saja,kebetulan ada empat RT, 3 RT muslim, 1 RT Kristen.

Untuk memaknai dan meorialisasi konflik sebagai proses pembelajaran dan tidak terulang lagi, yang kami lakukan memulai dengan menamai jalan atau gang karena mudah diingat dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Kami membuat nama-nama gang dengan kata-kata yang memberikan spirit, seperti Gang Anti Kekerasan, Gang Perdamaian, Gang Kebangkitan, tapi salah dimaknai..

Siapa pihak yang resisten dan salah memaknai kedua belah pihakkah?

Yang resisten kelompok Islam radikal, hanya sebagian saja

Bagaimana mereka salah menganngapi? Apakah sampai terjadi konflik lagi? Rencana selanjutnya apa?

Bukan, konflik ini belum usai karena proses pemulihan tidak berjalan, pemerintah tidak serius menanganinya. Bisa saja konflik terjadi lagi kalau ketahanan diri warga masih kurang ya! (IR)