Masa Lalu Ter(Di)lupakan

Hingar-bingar praktik politik yang sedang berlangsung telah berhasil menyedot perhatian massa rakyat Indonesia. Semua energi politik yang ada di masyarakat tumpah mengikuti proyek politik (baca: pemilu) yang sedang berlangsung. Betul-betul seperti candu lima tahunan yang melenakan berbagai pikiran kritis.

Sejenak upaya membuka kotak pandora tentang berbagai luka kebangsaan Indonesia, sejak tragedi kemanusiaan 1965-1966 hingga tindakan yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan semasa ORBA, “dihentikan”. Memori kolektif tentang luka kebangsaan diistirahatkan dalam hingar-bingar praktek politik yang sedang berlangsung. Seolah-olah dikatakan lukanya ditahan dulu hingga perhelatan politik selesai. Luka tidak perlu menjadi discourse dalam pesta, luka itu menjijikkan dan luka membuat trauma. Karena yang sedang dilakukan adalah proses pembangunan nasional dan menata masa depan Indonesia. Lagi-lagi, masa lalu tidak pantas dibincangkan hari ini.

Membincangkan masa lalu pada masa kini berarti bicara tentang trauma. Dan itu harus disimpan rapat-rapat dalam perpustakaan, jangan dibuka di publik. Karena trauma itu bersifat manusiawi, romantis dan perasaan. Jadi hanya boleh diingat dan dirasakan bagaimana masa lalu itu terjadi. Bahkan ia bisa menjadi cerita “indah” yang memilukan. Bahwa bangsa ini tidak boleh lagi melakukan tindakan yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan seperti masa lalu, yang dapat melukai kebangsaan Indonesia.

Namun, hingar-bingar praktik politik sebagai candu yang pada prinsipnya tidak saja melenakan bahwa peristiwa yang menafikan nilai-nilai kemanusiaan di masa lalu harus diselesaikan. Persoalannya bukan semata-mata menyelesaikan persoalan masa lalu tersebut. Lebih mendasar bahwa candu proyek politik hari ini adalah penghalusan dari tindakan keras dalam rangka mempertahankan praktik akumulasi kapital yang masih terus berjalan. (Candra Aprianto)