Ruas Desember 2008

EDITORIAL

Mau Dikemanakan Negri Ini?

JIKA dibaca sekilas, pertanyaan di atas nampak sepele. Orang akan dengan mudah menjawab, “Dibawa ke arah yang lebik baik.” Memang, semua orang akan bisa berkata begitu. Tapi faktanya, kita sama-sama melihat. Rakyat dan negri tercinta ini tak juga bernasib lebih baik dari sebelumnya.

Ambil contoh saja. Kematian 21 saudara-saudara sebangsa kita hanya karena berebut zakat senilai 30 ribu, pertikaian pemilihan Gubernur Maluku Utara yang menyisakan persoalan, Pilgub Jatim yang tidak berakhir mulus, penggusuran PKL yang terus merebak, angka pengangguran yang kian tinggi, kemiskinan merajalela dan ribut-ribut soal RUU Pornografi, semua itu membuat kepala jadi pusing! Belum lagi berbagai musibah yang terus menimpa masyarakat akibat rusaknya alam.
Kasus paling akhir yang dapat kita temui adalah akan terjadinya PHK besar-besaran di tahun 2009 akibat krisis global. Sementara itu, pemerintah belum punya jurus sakti untuk meredam PHK massal kecuali menurunkan harga BBM dan program lain yang sifatnya parsial. Di sisi lain pula, kita belum melihat hadirnya calon-calon pemimpin baru yang lebih menjanjikan.

Keadaan sebaliknya terjadi di wilayah para elit politik yang berkantor di Senayan. Meski tersedia berbagai fasilitas hidup yang layak – bahkan sangat layak untuk ukuran rakyat – para elit kita seolah tak peduli dengan penderitaan masyarakatnya. Mereka justru asyik memainkan jurus-jurus muslihat agar kelompoknya memenangkan pertarungan di arena Pemilu 2009.
Masya Allah!

Apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Dan apa saja yang dilakukan oleh para elite yang seharusnya bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan masyarakatnya di negri ini? Bagaimana pula dengan kekayaan alam kita yang makin lama makin habis? Apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu nanti?

Memang, dari berbagai media kita bisa baca. Tarik menarik kepentingan yang berpusat pada kepentingan politik kekuasaan - dan bukan politik yang menyejahterakan kian hari kian tergambar jelas.

Tanpa perduli nasib rakyat yang kian menderita akibat krisis ekonomi global – yang diyakini tak akan selesai dalam waktu singkat – para politisi Senayan asyik masyuk beradu jurus demi meraih kemudahan agar orang-orang dari partainya tetap bisa duduk di kursi empuk kekuasaan.

Di berbagai daerah kita juga melihat baliho-baliho mencolok bergambar wajah-wajah baru para calon politisi yang mencoba menawarkan diri kepada masyarakat hanya karena ingin dipilih. Kebanyakan dari mereka adalah calon-calon pemimpin baru yang bukan berasal dari bawah, melainkan lahir dari akibat kegagalan kaderisasi yang dilakukan oleh parpol, baik parpol lama maupun baru.

Yang lebih mengerikan lagi, para calon pemimpin baru di negri ini begitu bergairah membuang uang milyaran rupiah – bahkan kalau dijumlah bisa jadi trilyunan – demi popularitas diri dan kekuasaan.

Persoalannya adalah, pernahkah mereka berfikir bahwa penghamburan uang sebanyak itu sangat tidak bermanfaat bagi rakyat. Jika saja uang-uang itu digunakan untuk kepentingan rakyat, sungguh akan memberi manfaat luar biasa besar bagi bangsa dan negeri yang sedang dilanda berbagai masalah ini. 

Untuk itu kita hanya bisa berharap, Pemilu 2009 akan melahirkan pemimpin yang mau bekerja keras, berkorban dan berjuang untuk rakyat melewati jalur rekonsiliasi nasional secara total dan menyeluruh, dengan catatan, rakyat tidak alergi terhadap Pemilu.
Semoga! (BN)